Discounted Cash Flow - Free Cash Flow atau DCF-FCF

Discounted Cash Flow - Free Cash Flow atau DCF-FCF

Apa itu Discounted Cash Flow - Free Cash Flow atau (DCF-FCF)?

Discounted Cash Flow berasal adalah suatu perhitungan nilai sekarang (present value) atau menghitung nilai uang yang akan datang berdasarkan nilai sekarang, dan cash flow yang artinya arus kas.

Sedangkan free cash flow (FCF) adalah sisa kas yang dihasilkan oleh perusahaan setelah arus Kas dari Operasi dikurangi belanja modal. Oleh karena sisa maka disebut sebagai free cash atau uang bebas.

Berbeda dengan laba bersih, free cash flow mengecualikan pengeluaran non-tunai dan memperhitungkan biaya working capital (belanja modal) seperti pengeluaran untuk peralatan sampai perubahan modal kerja.

Free cash flow (FCF) diyakini lebih cocok menggambarkan keuntungan bisnis yang sebenarnya karena Free cash flow (FCF) lebih sulit untuk dimanipulasi dan mampu menceritakan kondisi riil perusahaan.

Discounted Cash Flow Free Cash Flow (DCF – FCF) merupakan sebuah metode untuk menghitung valuasi dengan cara menghitung nilai uang yang akan datang berdasarkan nilai free cash flow atau arus kas bebas saat ini yang disebut juga discounted free cash flow (DFCF).

Fungsi Discounted Cash Flow - Free Cash Flow atau (DCF-FCF)

Fungsi utama dari metode ini adalah untuk menghitung nilai atau valuasi sebuah perusahaan. Metode ini paling banyak digunakan dalam kelompok absolute valuation. discounted free cash flow diyakini metode paling cocok dan paling mendekati dengan prinsip – prinsip investasi.

Rumus Discounted Cash Flow - Free Cash Flow atau (DCF-FCF)

 

 

Hal penting dalam menghitung Discounted Cash Flow - Free Cash Flow atau (DCF-FCF)

Untuk menghitung valuasi menggunakan discounted free cash flow terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan:

1. Lama periode proyeksi

Tidak ada aturan baku mengenai lamanya waktu proyeksi bisa saja menggunakan 5 tahun, 10 tahun maupun 15 tahun. Dalam beberapa kasus biasanya digunakan 10 tahun sebagai pertimbangan proyeksi.

2. Pertumbuhan arus kas

Pertumbuhan arus kas dapat dilihat dengan data historis 5 tahun kebelakang sebagai faktor untuk menentukan pertumbuhan arus kas. Catatan penting sangat dianjurkan untuk melihat pertumbuhan arus kas yang stabil dari tahun ke tahun.

3. Tingkat diskonto

Tingkat diskonto dapat dihitung dengan banyak pendekatan seperti Capital Asset Pricing Model (CAPM) atau Weighted Average Cost of Capital (WACC). Untuk perusahaan dengan kapitalisasi, modal dan hutang yang cukup besar direkomendasikan digunakan WACC.

Cara menghitung Discounted Cash Flow - Free Cash Flow atau (DCF-FCF)

1. Tahap 1: mencari free cash flow.

Free cash flow atau arus kas bebas dapat dihitung dengan rumus = Arus Kas dari Operasi – Belanja Modal. Berikut tahapannya:

a. Carilah data laporan arus kas

Untuk mencari laporan arus kas dapat dicari di web resmi perusahaan jika memang tersedia atau Bursa Efek Indonesia untuk mendapatkan laporan arus kas perusahaan go publik.

b. Perhatikan pos working capital atau belanja modal atau capital expenditure biasanya tercatat sebagai pembelian aset tetap atau mesin, perawatan dan biaya lain - lain. Pengeluaran/pemasukan investasi untuk aset tetap yang tidak berpengaruh terhadap penambahan aset tetap tidak dianggap sebagai belanja modal.

 

2. Tahap 2: menghitung tingkat pertumbuhan

Dalam menghitung tingkat pertumbuhan didapatkan dari rata – rata pertumbuhan dari tahun ke tahun data masa lalu yang akan dijadikan asumsi untuk menghitung proyeksi di masa depan. Untuk menghitung tingkat pertumbuhan dapat dihitung dengan rumus,

Growth rate = ((Present– Past)/Past) x 100.

Untuk menghitung dapat digunakan data historis kebelakang selama minimal 3 tahun sampai 10 tahun.

Dari contoh diatas digunakan data historis selama 3 tahun dengan tingkat pertumbuhan sebesar 24%.

Dengan asumsi 24% akan diproyeksikan ke masa depan selama waktu 10 tahun.

3. Tahap 3: Menghitung tingkat diskonto.

Tingkat diskonto dapat dihitung dengan pendekatan seperti Weighted Average Cost of Capital (WACC) dengan tata cara sebagai berikut.

a. Menghitung Cost Of Debt

  • 1. Biaya bunga; Pertama hitung biaya bunga, yaitu penghasilan keuangan ditambahkan dengan biaya keuangan (finance cost). Misalkan biaya bunga sebesar Rp.154 juta.
  • 2. Total hutang; Menghitung total hutang yaitu jumlah hutang jangka panjang dan hutang jangka pendek. Misalkan hutang jangka pendek Rp.416.211 juta+ hutang kangka panjang Rp.55.980 Juta, maka total hutang Rp. 472.191 juta
  • 3. Cost of debt = biaya hutang / total hutang

Cost of debt = Rp.154 juta / Rp. 472.191 juta

Cost of debt = 0,03%.

b. Cost of equity dengan metode CAPM

  1. Risk free rate; suku bunga bebas risiko akan diambil contoh Savings Bond Ritel (SBR) Seri SBR007 dengan bunga 7,5% dari suku bunga acuan yang berlaku pada saat penetapan kupon yaitu sebesar 6,00% ditambah spread tetap 150 bps (1,50%).
  2. Return market; Untuk saham kita akan menggunakan acuan IHSG untuk menentukan Return market dimulai dari 1997 dan terakhir di tahun ini 2019 dengan return 13,4%
  3. Beta saham; koefisien beta adalah nilai yang menunjukkan sensivitas atau kepekaan saham terhadap pergerakan pasar dalam hal ini adalah IHSG, dalam contoh kali ini didapatkan nilai beta 0.72

CAPM = Rf + β*(Rm – Rf)

CAPM = 7,5 + 0.72 * (13,4 – 7,5)

CAPM = 11,7 %

c. Menghitung tax rate/ bunga pajak

Bunga pajak dapat dihitung dengan cara membagi total beban pajak dengan laba sebelum pajak EBT.

Tax Rate = Total Tax Expenses/EBT

Tax Rate = Rp 266.146 juta / Rp 1.073.835 juta

Tax Rate = 24,7%

 d. Menghitung nilai pasar atau kapitalisasi pasar

Nilai pasar dihitung dengan dengan cara mengkalikan jumlah saham beredar degan harga saham.

Outstanding shares = 14.884.360.900 shares

Share Price = Rp. 1276

Market Caps = Rp 14.884.360.900 * Rp 1276 = Rp 18.992.444.508.400

 

 e. Menghitung Total Value perusahaan

Total hutang = Rp. 472.191.000.000

Nilai pasar/Market Caps = Rp 18.992.444.508.400

Total Value = Rp. 472.191.000.000 + Rp 18.992.444.508.400 = Rp. 19.464.635.508.400

 

 f. Menghitung Porsi

1. Presentase ekuitas

Presentase ekuitas = Value equity / Total Value

Presentase ekuitas = Rp. 18.992.444.508.400/ 19.464.635.508.400

Presentase ekuitas = 97,5%

2. Presentase Hutang

Presentase Hutang = Total Hutang / Total Value

Presentase Hutang = Rp. 472.191.000.000/ 19.464.635.508.400

Presentase Hutang = 2,42%

 

g. Menghitung WACC

WACC = Biaya Hutang (%) * Presentase hutang (%) * (1- Tax Rate (%)) + Presentase  equitas (%) * Biaya ekuitas/CAPM

WACC = (0,035 % * 2,4% * (1 – 24,7%)) + (97,5% * 11,7%)

WACC = 11,46%

4. Tahap 4: Menentukan perpetual growth

Perpetual growth adalah pertumbuhan tanpa akhir dalam semua aspek, termasuk bidang-bidang seperti ekonomi dan populasi manusia, karena keyakinan bahwa pertumbuhan abadi seperti itu adalah sesuatu yang diinginkan.  Tingkat growth akan digunakan angka rata – rata inflasi sebesar 4,5%.

5. Tahap 5: Menentukan Terminal value

Terminal value adalah nilai saat ini di masa mendatang dari semua arus kas masa depan ketika kita mengharapkan tingkat pertumbuhan yang stabil selamanya. Terminal value dihitung dengan rumus:

TV  =  (FCFn x (1 + g))  /  (WACC – g)

Dimana,

TV        = Terminal value

FCF     = Free cash flow

n         = ear 1 of terminal period or final year

g         = Perpetual growth rate of FCF

WACC = Weighted average cost of capital

Terminal Value = (FCFn x (1 + g)) / (WACC – g)

Terminal Value = (6,130,636 x (1 + 3,75%)) / (11,46% - 3,75%)

Terminal Value = Rp. 82,531,106 juta

6. Tahap 6 : Menghitung Present value

Present value adalah sebuah konsep yang menerangkan bahwa uang saat ini bernilai lebih dari jumlah uang yang sama di masa depan. Penilaian tersebut dihitung menggunakan tingkat pengembalian yang telah ditentukan sebelumnya atau disebut dengan tingkat diskonto.

PV = FV/(1+r) n

PV = nilai uang hari ini

FV = nilai proyeksi uang masa depan

r = tingkat pengembalian yang diharapkan, tingkat bunga, atau tingkat inflasi. Atau dikenal dengan tingkat diskonto juga

n = jumlah periode.

 

7. Tahap 7: Menghitung Firm Value

Untuk menghitung firm valu Jumlahkan seluruh present value dari tahun ke tahun.

Hasilnya adalah Rp. 41.330.514 juta

8. Tahap 8: Debt Adjustment

Hasil dari perhitungan firm value harus mempertimbangkan faktor hutang yang berasal dari obligasi, kredit maupun hutang jenis lainnya. Maka nilai firm value akan dikurangi dengan total hutang.

Maka nilai akhir firm value adalah sbb,

Firm value = Rp. 41.330.514 juta – Rp 472.191 juta

Firm value = Rp. 40.858.323 juta

 

 9. Tahap 9: Menghitung Harga wajar

Langkah terakhir adalah membagi firm value dengan jumlah saham beredar.

Fair value/warga wajar = Rp. 40.858.323 juta / 14.885

Fair value/warga wajar = Rp. 2744

 

--------------------------------------------------------------------------------------------------

Jadilah investor pasar saham Indonesia.

Untuk pembukaan akun saham (rekening sekuritas) dapat menghubungi kami disini atau disini

Gratis tanpa dipungut biaya!

 

 

 

 

 

 

 

 

Dipost Oleh Super Administrator

Follow us on IG : https://www.instagram.com/bigbrothersinvestment/ and Twitter : https://twitter.com/BigBroInvest

Post Terkait

Tinggalkan Komentar